Museum
Alas Trik

Museum Alas Trik merupakan ruang pelestarian sejarah yang menyimpan jejak peradaban dan peninggalan kuno di kawasan Kedungbocok. Temukan berbagai artefak bersejarah serta kisah awal berdirinya Majapahit melalui warisan budaya yang dirawat oleh masyarakat setempat.

Sejarah Berdirinya Museum Alas Trik dan Penemuan Candi Kedungbocok

Titik balik yang menjadi tonggak awal berdirinya museum terjadi secara tidak sengaja ketika seorang juru kunci makam lokal sedang menggali tanah untuk menanam singkong. Pada kedalaman sekitar 40 hingga 50 sentimeter, cangkulnya membentur susunan bata merah kuno berukuran besar yang tertata sangat rapi. Terkejut dan diselimuti rasa takut atas temuan tak biasa tersebut, ia segera melaporkannya ke pihak balai desa, khususnya kepada Kepala Desa saat itu yang dikenal berlatar belakang ahli filsafat.

Kawasan Kedungbocok di Alas Trik kini dikenal luas sebagai salah satu destinasi bersejarah, tak lepas dari peran Agus Suyatno atau yang akrab disapa Gusyat. Sebagai juru kunci museum yang sosoknya viral di media sosial, Gusyat menjadi figur penting di balik pengungkapan berbagai artefak kuno di wilayah tersebut. Sebelum museum resmi berdiri, lokasi di Kedungbocok ini hanyalah lahan biasa tanpa bangunan peninggalan yang tampak di permukaan. Kendati demikian, tempat ini sudah lama menarik perhatian peziarah dari luar daerah seperti Yogyakarta dan Malang. Mereka datang berkunjung untuk melakukan semedi, berdoa menyambung tali spiritual dengan para leluhur, serta memohon petunjuk kepada Sang Hyang Widhi atau Allah SWT.

Laporan tersebut memicu serangkaian penelusuran yang mendadak gempar dan menjadi perbincangan publik. Dari penggalian awal, terungkap keberadaan struktur bangunan candi yang membentang dari area sekitar pagar makam hingga menjangkau Dusun Medowo di Desa Gampingrowo, wilayah yang ternyata menyimpan peninggalan bersejarah dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Benda-benda dan artefak kuno yang berhasil diekskavasi kemudian dikumpulkan serta diamankan di balai desa. Bangunan yang dahulu difungsikan sebagai kantor Badan Permusyawaratan Desa (BPD) akhirnya resmi dialihfungsikan menjadi bangunan museum. Kini, museum tersebut terus didatangi oleh banyak pengunjung dari pelbagai daerah yang antusias untuk melihat dan mempelajari langsung jejak sejarah Alas Trik.

Museum ini menyimpan beragam koleksi menarik, khususnya gerabah dan guci kuno peninggalan berbagai era dinasti yang mencerminkan interaksi antara masyarakat pribumi, Cina, dan Belanda. Proses pengumpulan dan penyelamatan benda peninggalan—seperti artefak logam, pecahan batu, dan sisa struktur bangunan kuno—didukung penuh oleh 12 komunitas pemerhati sejarah Jawa se-Jawa Timur. Pengunjung disarankan datang langsung ke lokasi museum agar dapat merasakan suasana alamnya dan memperoleh penjelasan sejarah secara utuh.

Penamaan Alas Trik merujuk pada lokasi historis tempat Raden Wijaya pertama kali membabat hutan untuk mendirikan permukiman. Nama "Trik" sendiri memiliki dua arti: tukul (tumbuh) yang menandakan awal berdirinya kerajaan, dan siasat (trik) yang menggambarkan strategi dalam membangun fondasi kekuatan Majapahit sebelum pusat kerajaan berkembang pesat dan berpindah ke Trowulan. Saat ini, pengelola dan warga setempat berharap pemerintah segera memberikan pengakuan dan legalitas resmi bagi Museum Alas Trik agar upaya pelestarian sejarah ini dapat berjalan lebih optimal.

Pengelola Museum Alas Trik sempat bekerja sama dengan pihak kampus ITS untuk mendeteksi keberadaan peninggalan purbakala menggunakan metode geolistrik. Hasil pemindaian mengindikasikan adanya struktur bangunan kuno yang tertimbun di kedalaman 4 hingga 7 meter di area persawahan. Benda-benda bersejarah yang berhasil ditemukan seperti batu sumur melengkung, bata merah berukuran besar khas zaman dahulu, hingga koin logam kuno pertama kali ditemukan oleh Mbah Paiman selaku juru kunci. Namun, karena lokasi penemuan tersebut berada di tanah milik warga dan belum dilegalitaskan oleh negara, beberapa struktur bangunan kuno terpaksa rusak atau terganggu ketika lahan digunakan untuk fasilitas umum masyarakat, seperti pemakaman.

Tantangan terbesar yang dihadapi pengelola bukanlah dari masyarakat, melainkan lambatnya pengakuan resmi dan legalitas dari instansi pemerintah terkait. Selama ini, operasional museum berjalan berkat kepedulian Pemerintah Desa Kedungbocok yang menyediakan tempat dan alokasi dana ala kadarnya. Pengelola bekerja secara sukarela tanpa gaji dari negara untuk mengamankan dan merawat artefak-artefak tersebut. Tanpa adanya dukungan dari pemerintah desa dan niat tulus dari pengelola, benda-benda peninggalan bernilai tinggi itu berisiko dijual kepada kolektor demi alasan ekonomi dan hilang dari sejarah lokal.

Meskipun cakupan wilayah historis Alas Trik membentang luas hingga ke wilayah Pasuruan dan Tarik, titik nol atau pusat pembukaan hutan pertama diyakini berada di Desa Kedungbocok. Oleh karena itu, Museum Alas Trik memiliki peran yang sangat vital sebagai bukti otentik keberadaan Kerajaan Majapahit agar tidak dianggap sekadar cerita fiktif. Perbedaan mendasar antara Museum Alas Trik dan Museum Mpu Tantular terletak pada status legalitasnya; Museum Mpu Tantular sudah diakui resmi oleh pemerintah pusat sehingga memiliki anggaran perawatan dan tenaga kerja ber SK, sedangkan Museum Alas Trik masih berjuang secara independen tanpa alokasi dana rutin dari daerah.

Pengelola sangat mengharapkan peran aktif generasi muda, akademisi, serta mahasiswa dari berbagai universitas untuk membantu mempublikasikan keberadaan Alas Trik melalui riset, media sosial, maupun media digital. Edukasi sejak dini bagi pelajar sangat penting agar mereka tidak melupakan akar sejarah bangsa. Harapan utamanya adalah pemerintah daerah segera melegalitaskan situs dan lokasi museum ini agar tanggung jawab pelestarian, pembebasan lahan, hingga biaya perawatan benda bersejarah dapat ditanggung secara berkelanjutan oleh negara.